Kita semua pasti sangat merindukan dan
bersemangat menyambut kedatangan Ramadhan. Hari ini saja, sudah ada beberapa
grup WA yang hidup kembali setelah sekian lama mati suri. Kebangkitan grup WA
ini juga salah satunya diakibatkan adanya semangat Ramadhan yang menggebu-gebu.
Semangat ingin buka puasa bersama sebagai ajang reuni tahunan.
Banyak
sekali fenomena-fenomena lain yang juga menyertai momentum ramadhan tidak hanya
perihal puasa dan tarawih. Ramainya pasar ramadhan, update status dan foto kebersamaan ngabuburit dengan keluarga atau
sahabat, sahur on the road, sharing resep
makanan hingga fenomena mager all day hehe.
Sebuah
anekdot pun acapkali terdengar dengan uniknya kebiasaan masyarakat ketika
Ramadhan. “Minggu pertama sibuk ibadah, minggu kedua sibuk buka puasa bersama,
minggu ke sibuk beli baju lebaran, minggu keempat sibuk bersih-bersih rumah,
minggu kelima kemudian menyesal”. Hal ini bisa saja memang kita sadari terjadi
pada diri kita. Inilah pertanyaan besar. Memang benar ramadhan ditunggu, tapi
kok hanya berlalu begitu?
Kita
pasti sudah sangat familiar dengan nash yang berkaitan dengan keutamaan puasa
Ramadhan. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertaqwa”
(QS. Al Baqarah: 183). Jelas sekali puasa merupakan ibadah yang dengannya
diharapkan agar menjadi bertaqwa.
Lalu apakah makna taqwa yang dimaksudkan? Definisi taqwa menurut
Thalq Bin Habib Al’Anazi sebagaimana dikutip dari muslim.or.id. “Taqwa adalah mengamalkan ketaatan
kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan
maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”
Saya kemudian tertarik dengan realita bagaimana bisa
kemudian seseorang berpuasa namun masih saja terlibat dalam kemaksiatan? Bagaimana
bisa seseorang berpuasa namun lalai dalam mengharap ampunan Allah atas perilaku
pamer makanan mewah yang sering dilakukan? Bagaimana bisa seseorang berpuasa
namun lemah dalam meninggalkan kemaksiatan dalam bentuk ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan) pada saat berbuka
puasa bersama? Apakah kemudian ada yang salah dengan puasa nya?? Disamping kita
perlu memahami kewajiban puasa dari ayat diatas, kita juga seharusnya mampu
senantiasa merenungi mendalam ayat tersebut. Sudahkan kita bertaqwa sebagaimana
seharusnya?
Bertaqwa
dengan sebenar-benar taqwa
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
Hai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam. (Q.S Ali Imran: 102)
Harapan
puasa sebagai cara agar seseorang bertaqwa nyatanya juga tidak bisa dilepaskan
dari konteks kondisi yang mengelilingi secara umum. Salah satu ayat yang
dikutip diatas menjadi salah satu pendorong kita untuk memahami
sebenar-benarnya realitas taqwa. Kita kerapkali menghubungkan ketaqwaan dengan
makna menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Jelas ini definisi yang
tak keliru. Hanya saja ALLAH juga mendorong kita untuk bertaqwa dengan
sebenar-benar taqwa kepadaNya. Lalu seperti apa mewujudkannya?
Terwujudnya ketaqwaan seseorang yang
sebenar-benar taqwa tentu haruslah didukung dengan pemahaman mendalam seseorang
akan akidah Islam yang dianutnya. Seseorang haruslah senantiasa meng-upgade diri untuk semakin memahami Islam
secara menyeluruh, mulai dari perkara halal sampai yang haram, perkara
fundamental sampai perkara teknis, karena bagaimana mungkin ketaqwaan bisa
hadir dan bertahan jika ia tak mampu atau malas memahami Islam yang dianutnya melalui
jalan pemikiran.
Tak berhenti sampai disini,
sebenar-benarnya taqwa seseorang juga melibatkan usaha untuk sekuat tenaga
istiqomah dalam ketaatan serta menutup segala celah yang memungkinkan dirinya
berbuat kemaksiatan. Inilah pentingnya selalu evaluasi atau muhasabah. Segala
usaha untuk tetap istiqomah dan menutup celah kemaksiatan tidak hanya mampu
dilakukan individu seorang diri, melainkan juga perlu adanya masyarakat yang
peduli dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar serta negara yang menerapkan
syariat Islam secara
total.
Momentum Ramadhan ini
menjadi momen terbaik untuk kita melakukan muhasabah, mudah atau justru
sulitkah saat ini kita mewujudkan diri yang bertaqwa, dengan sebenar-benar taqwa
sebagaimana yang diperintahkan ALLAH? Jika terasa masih sulit, disitulah letak
perjuangan yang harusnya ditempuh, yakni terus ngaji dan dakwah untuk mewujudkan
penerapan syariat Islam secara total yang dengannya sebenar-benar ketaqwaan
didorong dan kesejahteraan serta keamanan muslim maupun nonmuslim bisa
terwujud. Wallahu a’lam bis shawab







0 komentar:
Posting Komentar