Senin, 21 Mei 2018

RAMADHAN DAN SEBENAR-BENAR TAQWA

          Kita semua pasti sangat merindukan dan bersemangat menyambut kedatangan Ramadhan. Hari ini saja, sudah ada beberapa grup WA yang hidup kembali setelah sekian lama mati suri. Kebangkitan grup WA ini juga salah satunya diakibatkan adanya semangat Ramadhan yang menggebu-gebu. Semangat ingin buka puasa bersama sebagai ajang reuni tahunan.
            Banyak sekali fenomena-fenomena lain yang juga menyertai momentum ramadhan tidak hanya perihal puasa dan tarawih. Ramainya pasar ramadhan, update status dan foto kebersamaan ngabuburit dengan keluarga atau sahabat, sahur on the road, sharing resep makanan hingga fenomena mager all day hehe.
          Sebuah anekdot pun acapkali terdengar dengan uniknya kebiasaan masyarakat ketika Ramadhan. “Minggu pertama sibuk ibadah, minggu kedua sibuk buka puasa bersama, minggu ke sibuk beli baju lebaran, minggu keempat sibuk bersih-bersih rumah, minggu kelima kemudian menyesal”. Hal ini bisa saja memang kita sadari terjadi pada diri kita. Inilah pertanyaan besar. Memang benar ramadhan ditunggu, tapi kok hanya berlalu begitu?
            Kita pasti sudah sangat familiar dengan nash yang berkaitan dengan keutamaan puasa Ramadhan.  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertaqwa” (QS. Al Baqarah: 183). Jelas sekali puasa merupakan ibadah yang dengannya diharapkan agar menjadi bertaqwa.
            Lalu apakah makna taqwa yang dimaksudkan? Definisi taqwa menurut Thalq Bin Habib Al’Anazi sebagaimana dikutip dari muslim.or.id. “Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah
            Saya kemudian tertarik dengan realita bagaimana bisa kemudian seseorang berpuasa namun masih saja terlibat dalam kemaksiatan? Bagaimana bisa seseorang berpuasa namun lalai dalam mengharap ampunan Allah atas perilaku pamer makanan mewah yang sering dilakukan? Bagaimana bisa seseorang berpuasa namun lemah dalam meninggalkan kemaksiatan dalam bentuk ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan) pada saat berbuka puasa bersama? Apakah kemudian ada yang salah dengan puasa nya?? Disamping kita perlu memahami kewajiban puasa dari ayat diatas, kita juga seharusnya mampu senantiasa merenungi mendalam ayat tersebut. Sudahkan kita bertaqwa sebagaimana seharusnya?

Bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa
            يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Q.S Ali Imran: 102)
            Harapan puasa sebagai cara agar seseorang bertaqwa nyatanya juga tidak bisa dilepaskan dari konteks kondisi yang mengelilingi secara umum. Salah satu ayat yang dikutip diatas menjadi salah satu pendorong kita untuk memahami sebenar-benarnya realitas taqwa. Kita kerapkali menghubungkan ketaqwaan dengan makna menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Jelas ini definisi yang tak keliru. Hanya saja ALLAH juga mendorong kita untuk bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa kepadaNya. Lalu seperti apa mewujudkannya?
Terwujudnya ketaqwaan seseorang yang sebenar-benar taqwa tentu haruslah didukung dengan pemahaman mendalam seseorang akan akidah Islam yang dianutnya. Seseorang haruslah senantiasa meng-upgade diri untuk semakin memahami Islam secara menyeluruh, mulai dari perkara halal sampai yang haram, perkara fundamental sampai perkara teknis, karena bagaimana mungkin ketaqwaan bisa hadir dan bertahan jika ia tak mampu atau malas memahami Islam yang dianutnya melalui jalan pemikiran.
Tak berhenti sampai disini, sebenar-benarnya taqwa seseorang juga melibatkan usaha untuk sekuat tenaga istiqomah dalam ketaatan serta menutup segala celah yang memungkinkan dirinya berbuat kemaksiatan. Inilah pentingnya selalu evaluasi atau muhasabah. Segala usaha untuk tetap istiqomah dan menutup celah kemaksiatan tidak hanya mampu dilakukan individu seorang diri, melainkan juga perlu adanya masyarakat yang peduli dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar serta negara yang menerapkan syariat Islam secara total. 
Momentum Ramadhan ini menjadi momen terbaik untuk kita melakukan muhasabah, mudah atau justru sulitkah saat ini kita mewujudkan diri yang bertaqwa, dengan sebenar-benar taqwa sebagaimana yang diperintahkan ALLAH? Jika terasa masih sulit, disitulah letak perjuangan yang harusnya ditempuh, yakni terus ngaji dan dakwah untuk mewujudkan penerapan syariat Islam secara total yang dengannya sebenar-benar ketaqwaan didorong dan kesejahteraan serta keamanan muslim maupun nonmuslim bisa terwujud. Wallahu a’lam bis shawab

0 komentar:

Posting Komentar