Rabu, 14 Maret 2018

“DILAN”da NOSTALGIA (PENGUASA ZAMAN OLD VS PENGUASA ZAMAN NOW)

        Nostalgia tahun 1990-an tengah mengharu biru terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia beberapa waktu terakhir. Kehadiran “DILAN” sukses membuat masyarakat dilanda baper yang mendalam entah baper karena alur cerita, tokoh cerita atau justru karena ikut-ikutan saja. Virus DILAN nyatanya mampu menyebar dari anak muda ke orang dewasa bahkan sampai kepada Presiden RI, Joko Widodo. Minggu (25/2) Jokowi bersama putri dan menantunya menonton bersama film yang dibintangi Iqbaal Ramadhan tersebut.
Kehadiran Jokowi yang meluangkan waktunya untuk menonton film Dilan menimbulkan banyak komentar di sosial media. Sebagian berkomentar pedas dengan menanyakan pantaskah seorang pemimpin yang negerinya tengah dilanda banyak masalah justru masih punya waktu untuk menonton film? Namun sebagian lain juga datang untuk membela dengan menyatakan presiden juga manusia, adalah haknya untuk mendapat hiburan. Well… kalau sudah begini bagaimana kita harus memandang posisi penguasa? Untuk menjawab pertanyaan ini paling enak juga dengan ikut bernostalgia dengan kepemimpinan penguasa zaman old. Dari sini kita (dan penguasa tentunya) bisa belajar untuk mampu memandang posisi penguasa sebagaimana seharusnya.
Siapa yang tidak mengenal Umar bin Khattab? Umar bin Khattab merupakan salah satu penguasa yang dikenal sukses membawa kejayaan dalam kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan Umar bin Khattab dikenal sangat merakyat, siap menerima kritik dan sangat mengutamakan kepentingan rakyat. Merakyat yang dimaksud terbukti dengan sikap Umar yang sangat sederhana, hingga pernah suatu ketika ia bertemu dengan seorang nenek tua renta yang mengeluh tentang kezaliman sang Khalifah yang tak lain Umar sendiri. Nenek tersebut tidak mengenal Sang Khalifah karena penampilan sederhananya. Sikap siap menerima kritik juga tercermin dari sini dengan terbukti Umar mendengarkan dengan seksama kritik yang disampaikan nenek tersebut. Bahkan Umar menangis karena perasaan bersalah dan ketakutan kepada ALLAH SWT atas keteledorannya dan bersegera melakukan evaluasi dan koreksi.
Nilai-nilai Islam yang ada dalam diri Umar bin Khattab nyatanya telah membentuk kepribadian yang luar biasa. Umar tak segan, tak lelah dan tak malu untuk secara diam-diam melakukan patroli di tengah malam yang senyap untuk mengecek keadaan rakyatnya. Ia dengan sigap memikul sendiri gandum di bahunya demi segera menyerahkan ke keluarga yang membutuhkan. Konsep altruisme yang dikenal sekarang justru sudah terterapkan oleh Khalifah Umar tanpa ia harus mengetahui istilah tersebut. Pemahaman bahwa menjadi pemimpin adalah amanah membawa konsekuensi pada upaya yang optimal dari penguasa untuk benar-benar mengurus rakyatnya. Satu orang saja rakyat yang terzalimi dengan penguasa akan menjadi persaksian di hari kiamat kelak.
Bagaimana dengan penguasa zaman now? Keluhan ribuan rakyat yang menjadi korban banjir di berbagai daerah dan rintihan lapar dari suku Asmat sudahkah didengar, sudahkah ditangani dengan segera? Silahkan bernostalgia dengan kepemimpinan Umar bin Khattab.
Turun tiga generasi dari kepemimpinan Umar, kita juga menjumpai kepemimpinan luar biasa dari Umar bin Abdul Aziz. Beliau merupakan pemimpin yang dikenal dengan kerendahan hatinya dan ketundukan dirinya kepada ALLAH SWT. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun” merupakan kalimat pertama yang ia ucapkan seketika dibaiat menjadi khalifah. Disusul dengan tangisan yang bahkan tak mampu dihibur oleh penyair terbaik di zamannya. Betapa kekuasaan merupakan sebuah musibah bagi diri Umar. Selepas dibaiat hari-hari Umar tak ada habisnya selain mengurus rakyat dan beribadah kepada ALLAH SWT. Betapa ia memohon kepada ALLAH SWT untuk bisa menjalankan amanah itu dengan baik. Terbukti hanya dalam waktu tiga puluh bulan rakyat merasakan kesejahteraan secara merata.
Bagaimana dengan penguasa zaman now? Apa hal utama yang dilakukan penguasa seketika dinyatakan terpilih. Berduka atau berpesta pora? Apa setelahnya yang terus dilakukan? Mengurus rakyat atau kembali sibuk menyusun strategi untuk memenangkan pemilu selanjutnya. Silahkan bernostalgia dengan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz.
Islam telah secara tegas menyampaikan bahwa merupakan sebuah keharusan bagi seorang pemimpin untuk bersikap adil dan amanah mengurus rakyatnya. Sikap zalim dan ingkar akan mengantarkan pada kemurkaan ALLAH SWT dan diharamkan surga baginya. Sebagaimana Rasulullah SAW dalam Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim menyatakan “Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga.” Hal ini menuntut seorang pemimpin untuk sejatinya memahami tugasnya sebagai seorang pemimpin untuk lebih memprioritaskan waktunya untuk mengurus rakyat.
Figur pemimpin yang amanah dan qonaah telah tercermin dari para penguasa zaman old. Ketundukannya kepada syariat ALLAH SWT telah mampu mewujudkan kehidupan yang sejahtera dan peradaban yang cemerlang. Penguasa zaman now seharusnya bisa belajar dari penguasa zaman old. “DILAN”da nostalgia penguasa zaman old lebih bermanfaat, bukan?

0 komentar:

Posting Komentar