Nostalgia tahun
1990-an tengah mengharu biru terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia
beberapa waktu terakhir. Kehadiran “DILAN” sukses membuat masyarakat dilanda baper
yang mendalam entah baper karena alur cerita, tokoh cerita atau justru karena
ikut-ikutan saja. Virus DILAN nyatanya mampu menyebar dari anak muda ke orang
dewasa bahkan sampai kepada Presiden RI, Joko Widodo. Minggu (25/2) Jokowi
bersama putri dan menantunya menonton bersama film yang dibintangi Iqbaal
Ramadhan tersebut.
Kehadiran Jokowi yang
meluangkan waktunya untuk menonton film Dilan menimbulkan banyak komentar di
sosial media. Sebagian berkomentar pedas dengan menanyakan pantaskah seorang
pemimpin yang negerinya tengah dilanda banyak masalah justru masih punya waktu
untuk menonton film? Namun sebagian lain juga datang untuk membela dengan
menyatakan presiden juga manusia, adalah haknya untuk mendapat hiburan. Well…
kalau sudah begini bagaimana kita harus memandang posisi penguasa? Untuk
menjawab pertanyaan ini paling enak juga dengan ikut bernostalgia dengan
kepemimpinan penguasa zaman old. Dari sini kita (dan penguasa tentunya) bisa
belajar untuk mampu memandang posisi penguasa sebagaimana seharusnya.
Siapa yang tidak
mengenal Umar bin Khattab? Umar bin Khattab merupakan salah satu penguasa yang
dikenal sukses membawa kejayaan dalam kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan Umar
bin Khattab dikenal sangat merakyat, siap menerima kritik dan sangat
mengutamakan kepentingan rakyat. Merakyat yang dimaksud terbukti dengan sikap
Umar yang sangat sederhana, hingga pernah suatu ketika ia bertemu dengan
seorang nenek tua renta yang mengeluh tentang kezaliman sang Khalifah yang tak
lain Umar sendiri. Nenek tersebut tidak mengenal Sang Khalifah karena
penampilan sederhananya. Sikap siap menerima kritik juga tercermin dari sini
dengan terbukti Umar mendengarkan dengan seksama kritik yang disampaikan nenek
tersebut. Bahkan Umar menangis karena perasaan bersalah dan ketakutan kepada
ALLAH SWT atas keteledorannya dan bersegera melakukan evaluasi dan koreksi.
Nilai-nilai Islam
yang ada dalam diri Umar bin Khattab nyatanya telah membentuk kepribadian yang
luar biasa. Umar tak segan, tak lelah dan tak malu untuk secara diam-diam
melakukan patroli di tengah malam yang senyap untuk mengecek keadaan rakyatnya.
Ia dengan sigap memikul sendiri gandum di bahunya demi segera menyerahkan ke keluarga
yang membutuhkan. Konsep altruisme yang dikenal sekarang justru sudah
terterapkan oleh Khalifah Umar tanpa ia harus mengetahui istilah tersebut. Pemahaman
bahwa menjadi pemimpin adalah amanah membawa konsekuensi pada upaya yang
optimal dari penguasa untuk benar-benar mengurus rakyatnya. Satu orang saja
rakyat yang terzalimi dengan penguasa akan menjadi persaksian di hari kiamat
kelak.
Bagaimana dengan
penguasa zaman now? Keluhan ribuan rakyat yang menjadi korban banjir di berbagai
daerah dan rintihan lapar dari suku Asmat sudahkah didengar, sudahkah ditangani
dengan segera? Silahkan bernostalgia dengan kepemimpinan Umar bin Khattab.
Turun tiga generasi
dari kepemimpinan Umar, kita juga menjumpai kepemimpinan luar biasa dari Umar
bin Abdul Aziz. Beliau merupakan pemimpin yang dikenal dengan kerendahan
hatinya dan ketundukan dirinya kepada ALLAH SWT. “Innalillahi wa inna ilaihi
roji’uun” merupakan kalimat pertama yang ia ucapkan seketika dibaiat menjadi
khalifah. Disusul dengan tangisan yang bahkan tak mampu dihibur oleh penyair
terbaik di zamannya. Betapa kekuasaan merupakan sebuah musibah bagi diri Umar. Selepas
dibaiat hari-hari Umar tak ada habisnya selain mengurus rakyat dan beribadah
kepada ALLAH SWT. Betapa ia memohon kepada ALLAH SWT untuk bisa menjalankan
amanah itu dengan baik. Terbukti hanya dalam waktu tiga puluh bulan rakyat
merasakan kesejahteraan secara merata.
Bagaimana dengan
penguasa zaman now? Apa hal utama yang dilakukan penguasa seketika dinyatakan terpilih.
Berduka atau berpesta pora? Apa setelahnya yang terus dilakukan? Mengurus
rakyat atau kembali sibuk menyusun strategi untuk memenangkan pemilu
selanjutnya. Silahkan bernostalgia dengan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz.
Islam telah secara
tegas menyampaikan bahwa merupakan sebuah keharusan bagi seorang pemimpin untuk
bersikap adil dan amanah mengurus rakyatnya. Sikap zalim dan ingkar akan
mengantarkan pada kemurkaan ALLAH SWT dan diharamkan surga baginya. Sebagaimana
Rasulullah SAW dalam Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim menyatakan “Barangsiapa yang diangkat oleh Allah
untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka
Allah haramkan baginya surga.” Hal ini menuntut seorang pemimpin untuk
sejatinya memahami tugasnya sebagai seorang pemimpin untuk lebih
memprioritaskan waktunya untuk mengurus rakyat.
Figur pemimpin yang
amanah dan qonaah telah tercermin dari para penguasa zaman old. Ketundukannya
kepada syariat ALLAH SWT telah mampu mewujudkan kehidupan yang sejahtera dan
peradaban yang cemerlang. Penguasa zaman now seharusnya bisa belajar dari penguasa
zaman old. “DILAN”da nostalgia penguasa zaman old lebih bermanfaat, bukan?







0 komentar:
Posting Komentar