Manusia selalu diuji pada titik
terlemah mereka. Masing-masing orang tentu memiliki titik terlemah yang
berbeda. Kita kerapkali mengeluh kenapa untuk masalah yang sama,
setiap orang akan mampu merespon dengan berbeda. Ada yang menyikapi
dengan bijak, sabar, kesal atau justru menyalahkan takdir.
Sesungguhnya terdapat 3 tingkat untuk bisa menghadapi masalah di titik terlemah diri:
1. Ketahui dan sadari titik terlemah itu. Jika mungkin hal itu tertutup di mata kita maka cobalah ketahui dari orang-orang yang dapat menilai diri kita secara objektif.
2. Pahami sebab kelemahan itu dan berusahalah mencari solusi yang mampu mencabut akar masalah. Jangan terlena dengan solusi parsial dan temporal. Hal ini agar jika suatu ketika kita dihadapkan masalah yang hampir mirip tentu kita tetap bisa mengatasi sesuai solusi tadi. Selain itu, akar solusi ini akan menjadi pendorong terciptanya solusi-solusi teknis yang mampu mengoptimalkan upaya mengubah kelemahan menjadi kekuatan.
3. Selalu mengingat. Sifat alamiah manusia memang lemah dan terbatas. Sikap panik, resah dan galau pasti terjadi ketika masalah di titik terlemah tiba-tiba datang. Sifat alamiah setan juga memanfaatkan celah kekhilafan manusia ini. Itulah kemudian pentingnya ada teman atau sahabat dalam ketaatan yang mampu mendengarkan masalah tersebut meski itu bisa jadi hanya masalah "receh" baginya. Agama adalah nasihat. Jangan sungkan untuk selalu minta nasihat dari sahabat-sahabat sholehah.
Tingkatan ini dapat menjadi bahan untuk merenungi sejauh mana kita sudah mendalami kelemahan diri kita. Atau justru kita tak ada usaha mendalami sehingga membiarkan kelemahan itu menjadi kebiasaan yang pada akhirnya menghancurkan diri kita sendiri.
Naudzubillahi min dzalik.
Sesungguhnya terdapat 3 tingkat untuk bisa menghadapi masalah di titik terlemah diri:
1. Ketahui dan sadari titik terlemah itu. Jika mungkin hal itu tertutup di mata kita maka cobalah ketahui dari orang-orang yang dapat menilai diri kita secara objektif.
2. Pahami sebab kelemahan itu dan berusahalah mencari solusi yang mampu mencabut akar masalah. Jangan terlena dengan solusi parsial dan temporal. Hal ini agar jika suatu ketika kita dihadapkan masalah yang hampir mirip tentu kita tetap bisa mengatasi sesuai solusi tadi. Selain itu, akar solusi ini akan menjadi pendorong terciptanya solusi-solusi teknis yang mampu mengoptimalkan upaya mengubah kelemahan menjadi kekuatan.
3. Selalu mengingat. Sifat alamiah manusia memang lemah dan terbatas. Sikap panik, resah dan galau pasti terjadi ketika masalah di titik terlemah tiba-tiba datang. Sifat alamiah setan juga memanfaatkan celah kekhilafan manusia ini. Itulah kemudian pentingnya ada teman atau sahabat dalam ketaatan yang mampu mendengarkan masalah tersebut meski itu bisa jadi hanya masalah "receh" baginya. Agama adalah nasihat. Jangan sungkan untuk selalu minta nasihat dari sahabat-sahabat sholehah.
Tingkatan ini dapat menjadi bahan untuk merenungi sejauh mana kita sudah mendalami kelemahan diri kita. Atau justru kita tak ada usaha mendalami sehingga membiarkan kelemahan itu menjadi kebiasaan yang pada akhirnya menghancurkan diri kita sendiri.
Naudzubillahi min dzalik.







0 komentar:
Posting Komentar